Archive for the Life Journey Category

A Ruined Plan

Pandangan gue mengarah ke pegangan travelator di depan, ga jauh dari sana terpampang monitor yg dari layarnya gue tau kalo penerbangan gue digeser ke pukul 22.00, yg seharusnya 20.55..perfect!! Syukur aja airport-nya nyaman, kalo engga udah makin merana aje.  Well, ga bisa ngomong apa-apa selain, “Mahal itu ada alasannya, murah itu ada sebabnya.”. Yab, gue tau, quality comes with a price!

Pikiranpun melayang ttg rencana-rencana kepulangan gue kali ini. Syukurnya sih sekarang udah eranya teknologi. Dengan bermodalkan internet & telepon, gue udah bisa cek sana-sini, cocoklah dengan kondisi gue yg terperangkap jauh dari peradaban sperti ini. But now, honestly, bisa dibilang semuanya berantakan. Persiapan-persiapan yg udah dilakukan pun berasa ga berarti. Angan-angan, asa, harapan atau apapun itu namanya, berasa kandas sebelum terbang. It really sucks!!

Kalau ditelaah, mungkin salahnya adalah berharap yg berlebihan. Belon juga hari-h, udah ngebayangin yg indah-indahnya, yg seru-serunya, yg manis-manisnya, yg enak-enaknya, yg bagus-bagusnya…tp lupa kalo bisa aja, itu semua jadi hanya tinggal rencana. Lupa kalo ga selamanya segala sesuatu berjalan sesuai rencana. Lupa kalo ga ada yg pasti di dunia ini.

Plan for the best, prepare for the worst…And I did plan it best, but I really didn’t prepare for the worst…in fact, I didn’t even prepare for the bad!!

And now, I really don’t know what to do…I try to build up my mood again…but man, it’s hard!!

For The First Time

She’s all laid up in bed with a broken heart
While I’m drinking Jack all alone in my local bar and we don’t know how
How we got into this mad situation, only doing things out of frustration
Trying to make it work, but man, these times are hard!

She needs me now but I can’t seem to find the time
I got a new job now on the unemployment line and we don’t know how
How we got into this mess, is it God’s test?
Someone help us ’cause we’re doing our best
Trying to make it work, but man, these times are hard!

But we’re gonna stop by drinking our cheap bottles of wine
Sit talking up all night, saying things we haven’t for a while, a while, yeah
We’re smiling but we’re close to tears, even after all these years
We just now got the feeling that we’re meeting for the first time

She’s in line at the dole with her head held high
While I just lost my job but didn’t lose my pride, and we both know how
How we’re going to make it work when it hurts, when you pick yourself up you get kicked to the dirt
Trying to make it work, but man, these times are hard!

But we’re gonna start by drinking our cheap bottles of wine
Sit talking up all night, doing things we haven’t for a while, a while, yeah
We’re smiling but we’re close to tears, even after all these years
We just now got the feeling that we’re meeting for the first time

Drinking our cheap bottles of wine
Sit talking up all night, saying things we haven’t for a while, a while, yeah
We’re smiling but we’re close to tears, even after all these years
We just now got the feeling that we’re meeting for the first time

For the first time
Oh, for the first time
Yeah, for the first time
We just now got the feeling that we’re meeting for the first time

Oh, these times are hard, yeah, they’re making us crazy
Don’t give up on me, baby
Oh, these times are hard, yeah, they’re making us crazy
Don’t give up on me, baby
Oh, these times are hard, yeah, they’re making us crazy
Don’t give up on me, baby
Oh, these times are hard, yeah, they’re making us crazy
Don’t give up on me, baby

The 4.5 Hours (part 1)

#2004

Malam itu tak tampak berbeda, hanya gue yg sedang duduk di depan meja komputer sambil ngerjain tugas sederhana. Duduk sambil membelakangi tempat tidur yg merapat ke dinding di sebelah sana, sesekali bergumam mengikuti alunan nada, mencoba synced walaupun hanya beberapa kata saja, sisanya, hanya na-na-na dan suara tombol keyboard yg mulai merana. Dari jendela, tak ada aktifitas yg terlihat di lorong kosan itu. Yeib, tak tampak berbeda, hanya gue yg biasanya, di dalam ruangan 3x4m yg biasanya.

Rik…makan yok!!“, tiba-tiba Gilang memecah ritme malam itu.

Ni anak emang misterius, dengan wajah mulus, tingkat intelegensia yg bagus, sering ngomong serius, udah jadi sahabat gue sejak Agustus, dan sama-sama kuliah dgn gue di Binus, tp sayangnya ga kurus. Entah kapan dia buka pintu kamarnya, tau-tau dia udah nongolin kepalanya di pintu kamar gue. Separuh badan di luar, separuh badan di dalam.

Ayoklah“, jawab gue….singkat.

Pun akhirnya malam itu diputuskan untuk makan Sate Ayam. Bukan yg mewah, tp versi pinggiran gang, yg mejanya ditata di atas selokan, yg jadi arena balap tikus-tikus malam selokan perkotaan. Entah siapa nama penjualnya, tp yg jelas kita emang sering makan di sana, nyaman dengan harga dan rasanya. Terlebih, kalo mesan sate, nasinya boleh minta dikasih kuah sup tanpa ada bayaran ekstra. Lumayan, nambahin rasa.

Sate Ayam 2, Mas, 1 lg Sate Kambing“, pesan Eka, salah satu penghuni kosan yg sama.

Mungkin dari kita bertiga, dia yg paling fangkeh, ceria, demen maen bola, suka amat becanda, jago pula metik gitar. Ga jarang perilaku sederhananya dia bisa bikin gue ngakak sengakak ngakaknya. Gue ingat ketika waktu itu kita sedang jalan pulang sehabis kuliah. Di perjalanan siang bolong yg terik itu, terlihat seekor kucing sedang santai tertidur pulas di depan rumah tetangga..tanpa merasa berdosa, dia hampiri dan noyor kucingnya. Kemudian berlalu begitu aja…Sempat bertanya-tanya, “Apa sih salah si kucing nya?

Ga lama, pesanan pun tiba. Sperti biasa, si Mas-nya nanya, “Minum apa?“. Berharap ada pesanan lain yg menambah rejekinya malam itu. Tp sayangnya salah orang. Kita bertiga hanya mahasiswa biasa yg mengerti betul arti Rp. 1.500,- untuk sekedar meredakan dahaga. “Air putih aja, Mas“, jawab kita kompak.

Lahap…itulah kata yg tepat untuk menggambarkan suasananya. Tak peduli apa bahan pembicaraannya, tp masing-masing dari kita sibuk mengunyah. Suapan demi suapan, kunyahan demi kunyahan. Rasa bumbu kacang bercampur kuah sup benar-benar menambah selera. Terlebih ketika melihat Gilang & Eka menarik putus daging yg menempel di tusuk sate dengan mulutnya, sungguh-sungguh menambah tingkat kepuasan terhadap makanan sederhana penuh karbon ini. Sebenarnya pengen ikutan berpartisipasi dalam adegan menarik sate pake mulut tadi, tp gue ga biasa tuh. Mungkin karna faktor gigi gue yg ga sekuat mereka, ato emang gue ga suka keliatan barbar…entahlah. Yg jelas, gue selalu narik putus dagingnya pake sendok, per tiap tusuknya.

Ah…elu mah takut susuknya luntur yak?“, kali ini giliran Eka yg  memecah ritme malam itu.

Tak ada balasan yg terlontar dari mulut gue, hanya tawa. Karna kita semua juga tau, semua itu hanya candaan belaka. Terkadang posisi korban di sini memang dibutuhkan untuk menimbulkan tawa. Pun Mas-nya juga ikut terhibur melihatnya.

* * *

Haaaattcchiiimm!!“, tiba-tiba hidung gue ikut berpartisipasi dalam agenda malam itu. Bukan direncanakan, purely spontanitas. Seharusnya gue udah bisa mengantisipasinya, karna gejalanya udah berasa sejak suapan ke-n yg berapa. Hidung & mata mulai berair, nafas pun sudah mulai susah….tipikal. Dan syukurnya ada gulungan tissue yg-seharusnya-bukan-buat-di-meja-makan tergeletak di sana. Gue ambil, sobek sebanyak 2 lipatan, dan mulai melap hidung & mata…dan sedikit cairan dari hidung td yg terlempar hingga ke lengan.

Ka…tolong air donk!“, pinta gue ke Eka.

Gue tuang perlahan mengisi gelas yg udah kosong di hadapan. Walaupun rasa air-nya aneh, khas pinggiran jalan, tetep aja gue butuh minum. Sekedar menurunkan makanan yg rasanya begitu menyedak di tenggorokan gue. Setenggak dua tenggak, akhirnya makan pun dilanjutkan. Well, gue finish terakhir anyway…

Ya….gue ga pernah bisa makan cepat..

#2005

Njing…siang itu terik bgt. Seharusnya ga perlu mengumpat, seharusnya itu bukan hal yg aneh, seharusnya itu udah biasa. Ya mau gimana lagi, secara kamar gue di lantai 2, langsung kena sinar matahari, ga ada AC pula, cuma punya kipas angin yg muterin udara panas, ya pasti panaslah.

Standar anak kosan kalo hari libur ato ga ada kuliah, bangunnya pasti siang, tanpa beban, tanpa dosa. Terlebih kosan gue yg sekarang lebih homy. Karena di komplek perumahan, dan hanya ada 4 kamar, 2 di lantai bawah dan 2 di lantai atas, dan itupun bangunannya terpisah dari bangunan si empunya rumah…jadi yaaa…suka-suka aja.

Dipicu oleh perut yg mulai ribut, dan emang udah jam 3 pula, gue inisiatif turun buat ngajakin anak-anak yg lain makan siang, atau apapun itu namanya.

Woi Lang, makan yok!“, giliran gue yg ngajakin Gilang buat makan.

Gue kira udah ga butuh makan lagi lo!“, balas Gilang sekenanya.

Ga lupa gue ajak si Bro buat join makan siang, atau apapun itu namanya. Well, yg pasti namanya sih Enggal, tp kalo kenalin diri ke orang-orang, ngakunya Oki, tp justru sering dipanggil Bro ama kita-kita. Weird guy!

Dan kitapun jalan menembus terik hingga akhirnya sampai ke tujuan, Rumah Makan Padang ACC. Letaknya ga begitu jauh dari kosan, dan pas di pinggir jalan raya. Tampak depan sih biasa aja, tapi begitu masuk…..keliatan kurang dari biasa. Lantai yg gelap, dinding yg kusam, kipas angin yg seadanya, tampang pekerjanya yg gue yakin ga bakal pernah gue buat jadiin poster di kamar gue…yahh…standar lah. Entah kenapa gue ga bisa berpaling dari rumah makan ini. Mungkin aja karna ada keterikatan emosional, secara gue jg orang Minang, jd lebih prefer pedesnya rumah makan Padang dibanding manisnya warteg.

Biasanya sih kita pada mesen ayam..terus pake Kerupuk Jangek atau Kerupuk Kulit disiram kuah gulai..khas bgt. Ampe uda-uda-nya juga udah paham betul dgn perangai kita. Setelah ambil pesanan, kita pun duduk di meja. Langsung disampering ama uda yg lain, “Aa’ minumnyo?” (minumnya apa)

Berharap ada pesanan lain yg menambah rejekinya siang itu. Tp sayangnya salah orang. Kita bertiga hanya mahasiswa biasa yg mengerti betul arti Rp. 2.000,- untuk sekedar meredakan dahaga. “Es teh tawar aja, Da“, jawab kita kompak.

Lahap…itulah kata yg tepat untuk menggambarkan suasananya. Tak peduli apa bahan pembicaraannya, tp masing-masing dari kita sibuk mengunyah. Suapan demi suapan, kunyahan demi kunyahan. Rasa ayam bercampur kuah gulai dan sambal lado extra Kerupuk Jangek td benar-benar menambah selera. Terlebih ketika melihat Gilang & Bro ngasih kode ke uda-nya buat minta tambahan nasi, sungguh-sungguh menambah tingkat kepuasan terhadap makanan sederhana penuh kolesterol ini. Sebenarnya sih pengen ikutan berpartisipasi dalam adegan nambah tadi, tp ga bisa tuh. Mungkin karna emang faktor besar tubuh gue yg ga sebesar mereka, ato emang karna gue udah kelabakan buat ngabisin yg ada. Yg jelas, gue ga ikutan ngasih kode, ato sperti yg di iklan tipi, “Tambuah ciek, Da!

* * *

Kenapa lo, Rik?“, tanya Gilang yg  memecah ke-diam-an gue waktu itu.

Tak ada penjelasan yg terlontar dari mulut gue, hanya diam memaku. Karna kita semua juga tau, gue kenapa. Terkadang ke-diam-an gue di sini memang dibutuhkan untuk saat-saat seperti ini. Gue cuma diam, kedua tangan di atas meja sambil menahannya di mulut. Hidung & mata mulai berair, nafas pun sudah mulai susah….tipikal. Dan syukurnya ada tumpukan napkin tergeletak di sana. Gue ambil 1, dan mulai melap hidung & mata….

Gue minum es teh tawar yg ada di hadapan gue. Walaupun rasa teh-nya aneh, khas pinggiran jalan, tetep aja gue butuh minum. Sekedar menurunkan makanan yg rasanya begitu menyedak di tenggorokan gue. Semenit lima menit, akhirnya makan pun dilanjutkan. Well, gue finish terakhir anyway…

Ya….gue ga pernah bisa makan cepat..

#2006

Ada yg beda di malam itu, ada gue dan kedua orang tua, di rumah yg baru. Ternyata pas gue kuliah di Jakarta, orang tua gue sedang ngebangun rumah, yaaaa…secara yg lama udah di jual gitu! Masih berlokasi di Pekanbaru, dan memang rumahnya tak sebesar yg sebelumnya, halaman pun tak seluas  yg sebelumnya. Karna orang tua gue pikir, buat apa punya rumah besar-besar, toh anak-anak udah pada ga di rumah seperti dulu lg. Well, secara gue emang sedang liburan kuliah dan, malam itu kita ngobrol-ngobrol santai. Udah lama ga ngerasain makan malam dengan keluarga lagi.

Karna nyokap gue tau betul makanan favorit gue, antara Sardin atau Gule Santan Daging Burger, biasanya selalu ada menu itu tiap kali gue pulang. Dan kebetulan malam itu, ada Gule Santan Daging Burger.

Akrab…itulah kata yg tepat untuk menggambarkan suasananya. Tak peduli apa bahan pembicaraannya, tp masing-masing dari kita sibuk mengunyah. Suapan demi suapan, kunyahan demi kunyahan. Rasa daging bercampur kuah santan dan Kerupuk Rubik td benar-benar menambah selera. Terlebih ketika melihat bokap gue makan pake tangan langsung, sungguh-sungguh menambah tingkat kepuasan terhadap makanan sederhana penuh kolesterol ini. Sebenarnya sih pengen ikutan berpartisipasi dalam adegan makan pake tangan td, tp ga bisa tuh. Yaa..secara makanan gue berkuah parah gitu loh. Ampe bisa berenang..istilah tepatnya.

* * *

Makanya, kalau mau makan berdoa dulu?“, tanya bokap yg  memecah ke-diam-an gue waktu itu.

Tak ada penjelasan yg terlontar dari mulut gue, hanya diam memaku. Karna cuma gue yg tau gue kenapa. Terkadang ke-diam-an gue di sini memang dibutuhkan untuk saat-saat seperti ini. Gue cuma diam, kedua tangan di atas meja sambil menahannya di mulut. Hidung & mata mulai berair, nafas pun sudah mulai susah….tipikal. Dan syukurnya ada kain lap tergeletak di sana. Gue ambil, dan mulai melap hidung & mata….

Gue minum es teh manis yg ada di hadapan gue. Terasa begitu nikmat, khas rumahan. Benar-benar berusaha untuk menurunkan paksa makanan yg rasanya begitu menyedak di tenggorokan gue. Semenit lima menit, akhirnya makan pun dilanjutkan. Well, gue finish terakhir anyway…

Ya….gue ga pernah bisa makan cepat..

The Fight

I heard it from movie that every man has their own fights. Well, maybe this is one of mine.

Tomorrow will be the day, and there’s no one who can guarantee what is the outcome. And I’m scared..

Wish me luck..

Catatan Akhir Tahun 2010

*Dari draft yg terlupakan…

Tinggal beberapa jam lagi 2010 berakhir

Gamang….bukankah itu manusiawi??

Anehnya, justru itulah yg membuat kita berjuang

Tapi yg menyerah juga tak jarang

Ya kawan, sebentar lg 2011 menjelang

Berjuta harapan, doa, asa dan keinginan digantungkan

Entah apa yg akan menghadang

Semoga tahun depan kian cemerlang

Setahun lalu, kira-kira dijam segini, gue juga lg di SG. Kebetulan waktu itu masih bolak-balik JKT-SG. Mirisnya, tepat ditanggal 31 inilah gue balik ke JKT. Mbok ya tiketnya dipesan buat tgl 1 January aja gitu loh, jadi gue bisa tahun baruan di SG. Payah nih kantor…tega…hahay!

Ketika orang-orang sedang sibuk dengan persiapan tahun barunya, gue sedang duduk manis merenung di bandara. Ketika orang mulai jalan keluar buat ngerayain tahun baru, gue dalam perjalanan pulang dari bandara Sukarno Hatta. Ketika orang sedang bersorak menyambut tahun baru, gue sedang tergeletak sakit di kamar, kecapean soalnya. *sigh

Sebenarnya ada 2 hal yg terjadi di sini, mengakhiri tahun yg sekarang, dan menyambut tahun yg menjelang. Tapi entah kenapa dari kita, banyak yg fokus menyambut tahun yg menjelang. And there’s nothing wrong with that..Tapi, seperti katanya Boys Like Girl, it’s better two than one, right??

Experiences come from the past, justru dari hal-hal yg kita pernah alami. Dan buat gue, 2010 penuh dengan hal itu. Well, bukan penuh dengan hal-hal menyenangkan doank sih, tp banyak pelajaran yg bisa dipetik disana. Banyak kejadian, kebetulan, bahkan obrolan yg bikin gue sadar, ternyata masih banyak hal yg perlu gue perbaiki & persiapkan. Aih…berasa sok tua nggak-muda gue.

Gue masih ingat hari pertama gue mulai bekerja di SG, hari dimana gue memulai kehidupan baru di negri orang, the feeling, the excitement. Masih berasa gimanaaaaa gitu waktu menyusuri trotoar deket rumah, ngeliat building-buildingnya, naik public transportationnya, nyicip rasa makanannya..just WOW. Juga ingat dulu berasa bgt susahnya berkomunikasi dengan orang lain karna faktor bahasa!! It was hard to SAY WHAT YOU MEAN AND MEAN WHAT YOU SAY… *halah

Saat sakit sendirian, ga ada keluarga yg ngurusin. Beraaaaattt bgt kalo gue ingat dulu musti pergi berobat sendiri, saat badan udah sempoyongan, menggigil, kepala cenat-cenut. Dan sialnya musti ngandelin diri sendiri cuma buat beli makan siang, saat gue beneran demam parah. You need to COUNT ON YOURSELF…Haihhh…sedihnya. One thing for sure, KESEHATAN ITU PENTING BGT. Bisa jadi sehat itu mahal, tp udah pasti, kalo sakit itu jauh lebih mahal!

Terus, seriiiiiiiinngg bgt dapat petuah-petuah dari kolega-kolega disini, yg notabene, rata-rata udah pada berkeluarga. Jadi sedikit banyak tau, apa aja sih yg musti dipersiapkan. Apa aja yg musti dikuatkan. Apa aja yg musti dilakukan. Engga semua sih, tp setidaknya, mereka bisa ngasih gue gambaran kasar. They teach me to THINK AHEAD and MAKE GOOD PREPARATIONS. Ermm, rada miris juga sih sebenarnya, bisa jadi disaat temen-temen seumuran gue pada ngebahas konser apaaaaa gitu di Jakarta, bisa jadi gue sedang ngebahas sistem & biaya pendidikan di SG. Bisa jadi disaat temen-temen seumuran gue pada dengerin pengalaman temennya pulang liburan dari manaaaa gitu, bisa jadi gue sedang dengerin pengalaman kolega gue S3 di Holland. Atau lebih parahnya, disaat temen-temen seumuran gue pada ditelponin buat ketemuan di kafe apaaaa gitu, bisa jadi gue sedang ditelponin buat balik ke kantor! Hahaha…darn it!!

And I also remember when my friend asked me, “What is the  PURPOSE OF YOUR LIFE?”. And weird thing is, she asked me like it was nothing serious..just like a common thing to ask for her. She totally made me silent, coz I don’t know the answer..I just live my life the best way I can. Even up till now, I’m still trying to figure that out.

Well, sedikit banyak belajar me-manage pengeluaran. Buat yg ini, banyaaaaakkk bgt godaannya. Terlebih gue masih single, dan yaaaaa….bisa lah buat beli ini-itu dikit. But at least I feel proud of myself, I’m not saying I hold on to it strictly, but, I BUY WHAT I NEED, NOT WHAT I WANT. Tp setelah dipikir-pikir, miris juga euy…ngepas bgt seeeehhh!! wkwkwk

Gue juga tercenung ketika denger temen gue resign, hebatnya bukan karna dia dapat offering lebih baik di tempat lain, tp demi mengejar impiannya yg masih blm jelas kepastiannya. I think I did that once. Saat dulu gue masih di Jakarta, gue resign dari kantor, karna gue mau belajar & ambil sertifikasi, syukur-syukur dengan itu bisa dapat kerjaan lebih baik. But it turned out I got nothing. I used up all my savings and have to started working again. Hahaha… But looking at him, WILLING TO TAKE THE RISK TO PURSUE HIS DREAM, just wow-ed me. Fiuhhh, do I still have that courage??

Temen gue juga sukses nanamin  kepanikan Quarter Life Crisis di benak gue. I don’t even remember how we got there, but he totally got me there. Am I experiencing a Quarter Life Crisis now?? Kalo denger-denger dari penjelasannya dia sih, sedikit banyak ada yg kena tuh gue. Hahaha…But for me, TO GAIN SOMETHING, YOU LOSE SOMETHING. I keep trying to convince my self, that in the end, it’s all worth it. So I think it’s normal… *jiahh pembenaran

And, for the sweetest thing in 2010, I learn to love again, try not to repeat same mistakes again…And how much I’m grateful to have her around.. *eaaa

Yeab, those are some of it. And for 2011 wishes..well:

- When I close this year a year later, I hope I will not look back in regret
- I hope, when everything pushes me down, I can keep standing still. And when everything pulls me up, I can keep my head low
- To have more answer than question, more courage than insecureness, more action than talk, and more faith than doubt
- To laugh louder in sorrow and to cry in happiness
- Be the man
- To love you more…and to be loved by you more

And remember Riki, try to make your life MORE BALANCE. Happy new year everyone!!

When you get scared..

It is our nature to predict things, coz God gives us mind. Like when we want to eat, we predict that we’ll see food instead of shoes on the table. Like when we see faces, we predict that we’ll see eyes instead of legs. Otherwise, we’ll know something is not right. We also, mostly, make decisions based on that prediction. Can I get it? Can I have it? Can I make it? We try to calculate all the factors and get the pre-result from there. The beauty of mind, huh?

God also gives us heart, to feel something extraordinary, something even the mind can’t explain…somehow you just feel it. When the mind speaks to us through it’s logic, the heart speaks to us through its faith.

But when facing the future, too many factors, too many variables, too many uncertainty, so you need both of them. When they told you, “Never lose sight”..then remember this also, “Never lose faith”…

If you can’t walk down the path, if you feel too afraid to try, look around you. Because maybe, just maybe, you’re not alone. There’s people who surrounds you, who keeps you safe, who walks beside you. So keep your head straight, have faith then make your move. She told me once, “It’s ok to feel scared, but do not stop trying”

So it’s okay to be scared, to cry, to scream, to fall, to get hurt..but don’t stop..

Happy 3 months…

January Getaway

I’m going back to Jakarta today in about 30 mins. Well, I need a short break anyway. Too much things going on. Too much minds wandering around. So yeah, I’m going back…To where I belong, where my heart belongs..

There’s one thing different this time, there’s someone waiting for me there, and I can’t describe how it feels. I have so much to say, but none of the words can tell exactly what..So wish me luck… *finger-crossed*

And Happy Chinese New Year to everyone…

The smile

Mungkin ini karena lagu yg selalu gue queue di playlist belakangan ini…iya…hanya satu lagu, Susan Boyle – Wild Horses. Ga di bus, ga di jalan, ga di kantor…lagunya cuma itu doank. Dan gue rasa, lantunan pianonya bener-bener bisa mainin mood gue… *lirik iPhone, you damn song!!*

Beberapa hari lalu gue ngobrol dengan kolega di sini. Kita yg tadinya lg cerita ttg weather forecast, masalah kerjaan, tau-tau sekitar 20mnt kemudian, berlanjut ke salad, casino, pajak, rumah & asuransi. Errmm…yeah, tell me about it! I’m confused too, how the hell we got there!!

He told me that as we grow older, like it or not, there are unavoidable games that we have to play.

Yaaa…dulu waktu kita (gue) masih SD, mana ada peduli dengan tatanan gigi, bau ketek & style rambut, hari Minggu cuma mikirin Ksatria Baja Hitam atau Doraemon aja. Beralih ke SMP, mulai mikirin jerawat, nabung duit buat beli parfum. Beranjak SMA, mulai gengsi dianterin ortu, maunya bawa kendaraan sendiri, makin genit ama yg namanya cewe, sibuk mikirin anggaran buat beli pulsa. Pas kuliah, ketar-ketir mikirin IPK, mikirin nyari duit tambahan karna duit yg dikirim ortu kok berasa pas-pasan, gamang sendiri mikirin nanti kalo udah lulus mau kerja dimana. Pas udah kerja, mikirin karir, berkeluarga, cicilan rumah, dana pensiun, bla bla bla bla… <– Seriously, this list can go on and on and on…

The games are changing and they are unavoidable...”, he continued.

Then, we just sat there in silent for awhile…Busy with our own mind. Mungkin masing-masing dari kita langsung nyadar tumpukan masalah yg belum diselesaikan…hahaha!!

After that, he finally broke the silence by telling me, “But remember this, no matter what comes ahead, no matter how hard it is, face it with smile. And hopefully, you’ll make it through…

So, will you smile with me? Happy 2 months..