“F*cking” is one of those f*cking words that can f*cking be put any f*cking where in a f*cking sentence and it f*cking still makes f*cking sense!
“F*cking” is one of those f*cking words that can f*cking be put any f*cking where in a f*cking sentence and it f*cking still makes f*cking sense!
I happened to be at my colleague desk this afternoon. So there’s this funny, kind of, post-it paper on the desk. So I took a picture of it.

And then I ask, “So what does it mean?”
Then my colleague replied, “It is something about ‘asking’. The meaning is….well, I’ll just write it down.”
So I took another picture.
If, somehow, you can’t read it clearly, here is what it says:
There are many innovations in the world, all it started by asking.
If you are working very hard but don’t get what you want, it is because you never ask.
Smart people ask smart question, stupid people ask stupid question.
You can get what you want, as long as you ask.
So…ask!!
#2004
Malam itu tak tampak berbeda, hanya gue yg sedang duduk di depan meja komputer sambil ngerjain tugas sederhana. Duduk sambil membelakangi tempat tidur yg merapat ke dinding di sebelah sana, sesekali bergumam mengikuti alunan nada, mencoba synced walaupun hanya beberapa kata saja, sisanya, hanya na-na-na dan suara tombol keyboard yg mulai merana. Dari jendela, tak ada aktifitas yg terlihat di lorong kosan itu. Yeib, tak tampak berbeda, hanya gue yg biasanya, di dalam ruangan 3x4m yg biasanya.
“Rik…makan yok!!“, tiba-tiba Gilang memecah ritme malam itu.
Ni anak emang misterius, dengan wajah mulus, tingkat intelegensia yg bagus, sering ngomong serius, udah jadi sahabat gue sejak Agustus, dan sama-sama kuliah dgn gue di Binus, tp sayangnya ga kurus. Entah kapan dia buka pintu kamarnya, tau-tau dia udah nongolin kepalanya di pintu kamar gue. Separuh badan di luar, separuh badan di dalam.
“Ayoklah“, jawab gue….singkat.
Pun akhirnya malam itu diputuskan untuk makan Sate Ayam. Bukan yg mewah, tp versi pinggiran gang, yg mejanya ditata di atas selokan, yg jadi arena balap tikus-tikus malam selokan perkotaan. Entah siapa nama penjualnya, tp yg jelas kita emang sering makan di sana, nyaman dengan harga dan rasanya. Terlebih, kalo mesan sate, nasinya boleh minta dikasih kuah sup tanpa ada bayaran ekstra. Lumayan, nambahin rasa.
“Sate Ayam 2, Mas, 1 lg Sate Kambing“, pesan Eka, salah satu penghuni kosan yg sama.
Mungkin dari kita bertiga, dia yg paling fangkeh, ceria, demen maen bola, suka amat becanda, jago pula metik gitar. Ga jarang perilaku sederhananya dia bisa bikin gue ngakak sengakak ngakaknya. Gue ingat ketika waktu itu kita sedang jalan pulang sehabis kuliah. Di perjalanan siang bolong yg terik itu, terlihat seekor kucing sedang santai tertidur pulas di depan rumah tetangga..tanpa merasa berdosa, dia hampiri dan noyor kucingnya. Kemudian berlalu begitu aja…Sempat bertanya-tanya, “Apa sih salah si kucing nya?”
Ga lama, pesanan pun tiba. Sperti biasa, si Mas-nya nanya, “Minum apa?“. Berharap ada pesanan lain yg menambah rejekinya malam itu. Tp sayangnya salah orang. Kita bertiga hanya mahasiswa biasa yg mengerti betul arti Rp. 1.500,- untuk sekedar meredakan dahaga. “Air putih aja, Mas“, jawab kita kompak.
Lahap…itulah kata yg tepat untuk menggambarkan suasananya. Tak peduli apa bahan pembicaraannya, tp masing-masing dari kita sibuk mengunyah. Suapan demi suapan, kunyahan demi kunyahan. Rasa bumbu kacang bercampur kuah sup benar-benar menambah selera. Terlebih ketika melihat Gilang & Eka menarik putus daging yg menempel di tusuk sate dengan mulutnya, sungguh-sungguh menambah tingkat kepuasan terhadap makanan sederhana penuh karbon ini. Sebenarnya pengen ikutan berpartisipasi dalam adegan menarik sate pake mulut tadi, tp gue ga biasa tuh. Mungkin karna faktor gigi gue yg ga sekuat mereka, ato emang gue ga suka keliatan barbar…entahlah. Yg jelas, gue selalu narik putus dagingnya pake sendok, per tiap tusuknya.
“Ah…elu mah takut susuknya luntur yak?“, kali ini giliran Eka yg memecah ritme malam itu.
Tak ada balasan yg terlontar dari mulut gue, hanya tawa. Karna kita semua juga tau, semua itu hanya candaan belaka. Terkadang posisi korban di sini memang dibutuhkan untuk menimbulkan tawa. Pun Mas-nya juga ikut terhibur melihatnya.
* * *
“Haaaattcchiiimm!!“, tiba-tiba hidung gue ikut berpartisipasi dalam agenda malam itu. Bukan direncanakan, purely spontanitas. Seharusnya gue udah bisa mengantisipasinya, karna gejalanya udah berasa sejak suapan ke-n yg berapa. Hidung & mata mulai berair, nafas pun sudah mulai susah….tipikal. Dan syukurnya ada gulungan tissue yg-seharusnya-bukan-buat-di-meja-makan tergeletak di sana. Gue ambil, sobek sebanyak 2 lipatan, dan mulai melap hidung & mata…dan sedikit cairan dari hidung td yg terlempar hingga ke lengan.
“Ka…tolong air donk!“, pinta gue ke Eka.
Gue tuang perlahan mengisi gelas yg udah kosong di hadapan. Walaupun rasa air-nya aneh, khas pinggiran jalan, tetep aja gue butuh minum. Sekedar menurunkan makanan yg rasanya begitu menyedak di tenggorokan gue. Setenggak dua tenggak, akhirnya makan pun dilanjutkan. Well, gue finish terakhir anyway…
Ya….gue ga pernah bisa makan cepat..
#2005
Njing…siang itu terik bgt. Seharusnya ga perlu mengumpat, seharusnya itu bukan hal yg aneh, seharusnya itu udah biasa. Ya mau gimana lagi, secara kamar gue di lantai 2, langsung kena sinar matahari, ga ada AC pula, cuma punya kipas angin yg muterin udara panas, ya pasti panaslah.
Standar anak kosan kalo hari libur ato ga ada kuliah, bangunnya pasti siang, tanpa beban, tanpa dosa. Terlebih kosan gue yg sekarang lebih homy. Karena di komplek perumahan, dan hanya ada 4 kamar, 2 di lantai bawah dan 2 di lantai atas, dan itupun bangunannya terpisah dari bangunan si empunya rumah…jadi yaaa…suka-suka aja.
Dipicu oleh perut yg mulai ribut, dan emang udah jam 3 pula, gue inisiatif turun buat ngajakin anak-anak yg lain makan siang, atau apapun itu namanya.
“Woi Lang, makan yok!“, giliran gue yg ngajakin Gilang buat makan.
“Gue kira udah ga butuh makan lagi lo!“, balas Gilang sekenanya.
Ga lupa gue ajak si Bro buat join makan siang, atau apapun itu namanya. Well, yg pasti namanya sih Enggal, tp kalo kenalin diri ke orang-orang, ngakunya Oki, tp justru sering dipanggil Bro ama kita-kita. Weird guy!
Dan kitapun jalan menembus terik hingga akhirnya sampai ke tujuan, Rumah Makan Padang ACC. Letaknya ga begitu jauh dari kosan, dan pas di pinggir jalan raya. Tampak depan sih biasa aja, tapi begitu masuk…..keliatan kurang dari biasa. Lantai yg gelap, dinding yg kusam, kipas angin yg seadanya, tampang pekerjanya yg gue yakin ga bakal pernah gue buat jadiin poster di kamar gue…yahh…standar lah. Entah kenapa gue ga bisa berpaling dari rumah makan ini. Mungkin aja karna ada keterikatan emosional, secara gue jg orang Minang, jd lebih prefer pedesnya rumah makan Padang dibanding manisnya warteg.
Biasanya sih kita pada mesen ayam..terus pake Kerupuk Jangek atau Kerupuk Kulit disiram kuah gulai..khas bgt. Ampe uda-uda-nya juga udah paham betul dgn perangai kita. Setelah ambil pesanan, kita pun duduk di meja. Langsung disampering ama uda yg lain, “Aa’ minumnyo?” (minumnya apa)
Berharap ada pesanan lain yg menambah rejekinya siang itu. Tp sayangnya salah orang. Kita bertiga hanya mahasiswa biasa yg mengerti betul arti Rp. 2.000,- untuk sekedar meredakan dahaga. “Es teh tawar aja, Da“, jawab kita kompak.
Lahap…itulah kata yg tepat untuk menggambarkan suasananya. Tak peduli apa bahan pembicaraannya, tp masing-masing dari kita sibuk mengunyah. Suapan demi suapan, kunyahan demi kunyahan. Rasa ayam bercampur kuah gulai dan sambal lado extra Kerupuk Jangek td benar-benar menambah selera. Terlebih ketika melihat Gilang & Bro ngasih kode ke uda-nya buat minta tambahan nasi, sungguh-sungguh menambah tingkat kepuasan terhadap makanan sederhana penuh kolesterol ini. Sebenarnya sih pengen ikutan berpartisipasi dalam adegan nambah tadi, tp ga bisa tuh. Mungkin karna emang faktor besar tubuh gue yg ga sebesar mereka, ato emang karna gue udah kelabakan buat ngabisin yg ada. Yg jelas, gue ga ikutan ngasih kode, ato sperti yg di iklan tipi, “Tambuah ciek, Da!”
* * *
“Kenapa lo, Rik?“, tanya Gilang yg memecah ke-diam-an gue waktu itu.
Tak ada penjelasan yg terlontar dari mulut gue, hanya diam memaku. Karna kita semua juga tau, gue kenapa. Terkadang ke-diam-an gue di sini memang dibutuhkan untuk saat-saat seperti ini. Gue cuma diam, kedua tangan di atas meja sambil menahannya di mulut. Hidung & mata mulai berair, nafas pun sudah mulai susah….tipikal. Dan syukurnya ada tumpukan napkin tergeletak di sana. Gue ambil 1, dan mulai melap hidung & mata….
Gue minum es teh tawar yg ada di hadapan gue. Walaupun rasa teh-nya aneh, khas pinggiran jalan, tetep aja gue butuh minum. Sekedar menurunkan makanan yg rasanya begitu menyedak di tenggorokan gue. Semenit lima menit, akhirnya makan pun dilanjutkan. Well, gue finish terakhir anyway…
Ya….gue ga pernah bisa makan cepat..
#2006
Ada yg beda di malam itu, ada gue dan kedua orang tua, di rumah yg baru. Ternyata pas gue kuliah di Jakarta, orang tua gue sedang ngebangun rumah, yaaaa…secara yg lama udah di jual gitu! Masih berlokasi di Pekanbaru, dan memang rumahnya tak sebesar yg sebelumnya, halaman pun tak seluas yg sebelumnya. Karna orang tua gue pikir, buat apa punya rumah besar-besar, toh anak-anak udah pada ga di rumah seperti dulu lg. Well, secara gue emang sedang liburan kuliah dan, malam itu kita ngobrol-ngobrol santai. Udah lama ga ngerasain makan malam dengan keluarga lagi.
Karna nyokap gue tau betul makanan favorit gue, antara Sardin atau Gule Santan Daging Burger, biasanya selalu ada menu itu tiap kali gue pulang. Dan kebetulan malam itu, ada Gule Santan Daging Burger.
Akrab…itulah kata yg tepat untuk menggambarkan suasananya. Tak peduli apa bahan pembicaraannya, tp masing-masing dari kita sibuk mengunyah. Suapan demi suapan, kunyahan demi kunyahan. Rasa daging bercampur kuah santan dan Kerupuk Rubik td benar-benar menambah selera. Terlebih ketika melihat bokap gue makan pake tangan langsung, sungguh-sungguh menambah tingkat kepuasan terhadap makanan sederhana penuh kolesterol ini. Sebenarnya sih pengen ikutan berpartisipasi dalam adegan makan pake tangan td, tp ga bisa tuh. Yaa..secara makanan gue berkuah parah gitu loh. Ampe bisa berenang..istilah tepatnya.
* * *
“Makanya, kalau mau makan berdoa dulu?“, tanya bokap yg memecah ke-diam-an gue waktu itu.
Tak ada penjelasan yg terlontar dari mulut gue, hanya diam memaku. Karna cuma gue yg tau gue kenapa. Terkadang ke-diam-an gue di sini memang dibutuhkan untuk saat-saat seperti ini. Gue cuma diam, kedua tangan di atas meja sambil menahannya di mulut. Hidung & mata mulai berair, nafas pun sudah mulai susah….tipikal. Dan syukurnya ada kain lap tergeletak di sana. Gue ambil, dan mulai melap hidung & mata….
Gue minum es teh manis yg ada di hadapan gue. Terasa begitu nikmat, khas rumahan. Benar-benar berusaha untuk menurunkan paksa makanan yg rasanya begitu menyedak di tenggorokan gue. Semenit lima menit, akhirnya makan pun dilanjutkan. Well, gue finish terakhir anyway…
Ya….gue ga pernah bisa makan cepat..
It is our nature to predict things, coz God gives us mind. Like when we want to eat, we predict that we’ll see food instead of shoes on the table. Like when we see faces, we predict that we’ll see eyes instead of legs. Otherwise, we’ll know something is not right. We also, mostly, make decisions based on that prediction. Can I get it? Can I have it? Can I make it? We try to calculate all the factors and get the pre-result from there. The beauty of mind, huh?
God also gives us heart, to feel something extraordinary, something even the mind can’t explain…somehow you just feel it. When the mind speaks to us through it’s logic, the heart speaks to us through its faith.
But when facing the future, too many factors, too many variables, too many uncertainty, so you need both of them. When they told you, “Never lose sight”..then remember this also, “Never lose faith”…
If you can’t walk down the path, if you feel too afraid to try, look around you. Because maybe, just maybe, you’re not alone. There’s people who surrounds you, who keeps you safe, who walks beside you. So keep your head straight, have faith then make your move. She told me once, “It’s ok to feel scared, but do not stop trying”
So it’s okay to be scared, to cry, to scream, to fall, to get hurt..but don’t stop..
Happy 3 months…
Mungkin ini karena lagu yg selalu gue queue di playlist belakangan ini…iya…hanya satu lagu, Susan Boyle – Wild Horses. Ga di bus, ga di jalan, ga di kantor…lagunya cuma itu doank. Dan gue rasa, lantunan pianonya bener-bener bisa mainin mood gue… *lirik iPhone, you damn song!!*
Beberapa hari lalu gue ngobrol dengan kolega di sini. Kita yg tadinya lg cerita ttg weather forecast, masalah kerjaan, tau-tau sekitar 20mnt kemudian, berlanjut ke salad, casino, pajak, rumah & asuransi. Errmm…yeah, tell me about it! I’m confused too, how the hell we got there!!
He told me that as we grow older, like it or not, there are unavoidable games that we have to play.
Yaaa…dulu waktu kita (gue) masih SD, mana ada peduli dengan tatanan gigi, bau ketek & style rambut, hari Minggu cuma mikirin Ksatria Baja Hitam atau Doraemon aja. Beralih ke SMP, mulai mikirin jerawat, nabung duit buat beli parfum. Beranjak SMA, mulai gengsi dianterin ortu, maunya bawa kendaraan sendiri, makin genit ama yg namanya cewe, sibuk mikirin anggaran buat beli pulsa. Pas kuliah, ketar-ketir mikirin IPK, mikirin nyari duit tambahan karna duit yg dikirim ortu kok berasa pas-pasan, gamang sendiri mikirin nanti kalo udah lulus mau kerja dimana. Pas udah kerja, mikirin karir, berkeluarga, cicilan rumah, dana pensiun, bla bla bla bla… <– Seriously, this list can go on and on and on…
“The games are changing and they are unavoidable...”, he continued.
Then, we just sat there in silent for awhile…Busy with our own mind. Mungkin masing-masing dari kita langsung nyadar tumpukan masalah yg belum diselesaikan…hahaha!!
After that, he finally broke the silence by telling me, “But remember this, no matter what comes ahead, no matter how hard it is, face it with smile. And hopefully, you’ll make it through…”
So, will you smile with me? Happy 2 months..
It’s kinda complicated, but I believe that I’m not alone in this body. It’s not like I’m having Multiple Personality Disorder, but there’s another me…inside me. There are “me” and “myself”. Surely I’m not psychologist and this post is just based on my understanding. And the most important thing is, seriously….I’m not crazy!!
For example, let’s say that you are very tired, you don’t want to do anything but sleep, but you need to finish this paperwork. So “you” force “yourself” to hold that sleeping will until you finished that paperwork. So you start working on that paperwork even-though another part of yourself is totally against it. And somehow, to get things done, both of you need to work together, anything less than that…..well…probably still can make it, but it wont be something great!!
I don’t know whether I’m the “me” or “myself”. Maybe, that other side of me is my passion, or my emotional part, or maybe my logical part or even maybe my body, but one thing for sure, at some level, he will listen to me, but if I reach his limit, he just stops doing anything I asked.
Sometimes, I have this…..conversation….with the other me, for example, when I felt so tired at working, I went home early, but as soon as I got home, there were these thoughts, like: “Ok, I need to sleep”, “But let’s watch House first”, “Oh, come on…I’m so tired, I need to be fit for tomorrow”, “But it only takes 45mins”, “Ok…let’s do that”…something like that…but again…I don’t know which one from that thoughts is coming from “me” or “myself”.
Or silly conversations like: “Look at that guy, he walks like he’s the only good looking guy on earth”, “Well, he is physically more attractive than you”, “Blah…I would never walk like that”, “Exactly…since you’re not as attractive as he is”, “Oh shut up!!”
Or if you read my post Dear 25th, it felt like coming from another part of me or maybe….that’s the real me.
So I’m confused now, but here’s the thing, understanding your self is the key. By understanding, I still dont totally understand myself, so I can’t give you clear guide about how to do that. But it is important for you to play this right, treat yourself right. Well, I believe, if you and yourself are in 100% synced, you can be anything you want, anywhere you want, but if you totally against each other, you’ll be nothing, you’ll get no where.
So how to talk to ourself?? Well, based on my experiences, he always talks. The problem is, whether I am listening to him or not. Sometimes, I just ignore him, but sometimes, I let him do anything he wants. But if I want to have a real conversation with him, I always separate myself with everything first, I need to be alone. Then, only do one nothing, could be enjoying the moment, or listening to music, or just laying down…and then, I usually start with saying “What have we done??”. Then after that, maybe we blame each other or laugh together…but that feels so honest to me.
In short….to be a 100% of you….you need to work together. Well, maybe that’s why they say, “Try to be a best friend with yourself”.
Lagi-lagi gue belajar bahwa sudut pandang tiap orang itu bisa berbeda. Mungkin buat 1 pihak, itu langkah yg baik, tp sangat mungkin di pihak lainnya, itu bunuh diri. Yaaahhh, begitulah kita, penuh bgt ama keunikannya masing-masing, penuh dengan pandangannya masing-masing. We have our own reason to do something, meanwhile the others have every reason not to. Sighhh…
Ceritanya gini, gue lg naik MRT dari Expo ke Tanah Merah, which is only one station. So I went inside the train, and looked around, looking for an empty seat. Waktu itu tempat duduk yg kosong ada beberapa sih emang, cuma disamping kiri-kanannya pada rame bawa koper, soalnya ini kereta emang abis dari Changi Airport. Males aja gue nyosor diantara mereka, “Dengan barang bawaan segitu banyak, bakalan ga nyaman kalo gue nyempil diantara mereka”, pikir gue.
Setelah liat-liat seat yg lain, ketemulah gue 1 seat kosong, di sebelahnya cuma babeh-babeh nenteng map doank. Legaan nih!!
Tp, seat itu reserved seat, yg biasanya selalu ada di kereta buat orang lg sakit, ibu hamil, ama manula. Secara next stop gue udah turun, dan kereta juga udah jalan, duduklah gue di reserved seat tadi. Tapi tiba-tiba, si babeh di sebelah gue nanya, “Don’t you know that this is a reserved seat??”.
I was pretty shocked.
At first, I feel amazed by this man, he has the courage to ask. People here, usually just don’t care with other people’s business. But after a few moment, I just feel annoyed, humiliated….errrhh…very unpleasant. Kesannya, berasa ga tau aturan bgt gue ditanyain gitu.
“Yes, I know”, jawab gue singkat. Anjrot, makin berasa ga tau aturan bgt gue, udah tau reserved seat masih aja didudukin. Ga mau dicap sperti itu, gue tambahin lg penjelasannya, “Look, next stop is my stop and we already on the way there, so there’ll be no new passengers who’ll need this seat. So yes, I sit on it!!”, jawab gue dengan senyum yg luar biasa dipaksakan.
Menurut gue, itu hitung-hitungan yg logis..
Betenya lg, ni babeh jawab, “Ya ya ya”, sambil buang muka ke samping, seolah-olah bilang, “Serah lo dah cui…lo mau ngejelasin ampe nungging juga gue mah bodoh amat. Nyang penting buat gue, lo duduk di reserved seat, artinya lo ga tau aturan…titik!!”.
Menurut dia, gue ga punya manner, karna dia aja yg udah tua memilih duduk di public seat, giliran gue yg gagah luar biasa malah selonong boy duduk di reserved seat.
Crap..kesel bgt gue ngeliat gaya dia ngomong “ya ya ya” td. Dude, seriously, even though I sit on public seat, when I see someone near me who need it more than I do, I’ll go to him/her and ask him/her to sit there. So don’t you dare making your own judgement on me just from that couple seconds…I’m not a jerk!!
*setelah 3 hari mikirin tulisan ini, gue sadar kalo gue juga sering prejudgement kaya’ yg dia lakuin.
I never like politic, never…ever. My mom taught me that politic is dirty. And as far as I’ve seen it, it is damn dirty. F*ck..it is dirty!!!
Gue capek baca berita Century, Sri Mulyani, Gayus, Susno, Miranda, Nunun, Syahril Djohan dll. But still, itu masih lebih baik daripada nonton sinetron Indonesia produksi Ram Punbabi Punjabi. Rakyatpun terbius dengan drama berita ini, asik menebak-nebak alur cerita, kasak-kusuk bikin hipotesa masing-masing, ditambah pula dengan media masa yg giat ngebentuk opini publik. And suddenly, WE are the show.
Belakangan, kalo gue liat koran-koran disini, ada kata “Indonesia” dijudulnya. Gue denger radio, ada kata “Indonesia” diawal pengumumannya. Yeah, our nation, Indonesia. But sadly to say, not in a good way.
Sampai akhirnya gue baca berita tentang Jupe & Maria Eva. Dahi gue mengerut, serasa ga percaya. Keyword “Jupe” langsung gue ketik di mesin pencari memory otak gue. Dan top resultnya, “Koleksi foto sexy Jupe”. Giliran keyword “Maria Eva”, top resultnya, “Video Maria Eva ngesex + Yahya Zaini”. “Tuhkan bener, mereka yg itu!!”, respon gue.
Continue reading Ketika Jupe & Maria Eva maju jadi balon bupati…