Archive for the Stop & Think Category

Ekstrim, Cara Gue Memajukan Indonesia

Punya banyak anak. Iya, punya banyak anak!! Lo ga salah baca, gue bilang PUNYA BANYAK ANAK.

Humm, tulisan ini gue tulis hanya berdasar ego gue doank, jadi gue harap jangan jadi pemicu masalah lainnya.

Ceritanya gini, gue membagi golongan masyarakat jadi 2, menengah-bawah dan menengah-atas. Ga perlulah gue jelasin bedanya dimana. Dan untuk mendukung teori gue, kita anggap jumlah penduduk 2 golongan ini sama banyak, 50%-50% dari seluruh total penduduk Indonesia.

Dan secara manusia itu punya hasrat seksual, pastinya mereka bakal ngelakuin proses reproduksi. And this is where the problem begins.

Buat masyarakat menengah-atas, kecendrungan untuk punya anak 1-3 itu jauh lebih besar dibanding masyarakat golongan menengah-bawah. Kecendrungan ini bisa dipicu dari beberapa faktor,

  1. Si wanita adalah wanita karir, jadi ga punya waktu buat mikirin berkeluarga yg ujung-ujungnya ngadopsi anak orang laen
  2. Si wanita adalah model, jadi bener-bener jagain bentuk tubuh dan biasanya kalo udah ngelahirin jadiĀ  turun mesin
  3. Si pria dari muda udah terbiasa dengan kondom sebagai solusi seks bebasnya, jadi kebawa ampe ke bini sendiri
  4. Si pria sadar betul kemampuan reproduksinya, jadi ngambil keputusan untuk vasektomi
  5. Si pria dan wanita bisa menjadikan aborsi sebagai alternatif kalo ada ‘kecelakaan’ karna emang term itu populer buat mereka, lagipula toh mereka bisa bayar
  6. Si pria dan wanita kelelahan pulang kantor, pengennya nyampe rumah mandi langsung tidur, jadi males berhubungan seks
  7. Si wanita dan pria secara bertanggung jawab ingin memberikan yg terbaik buat anak-anak mereka, jadi lebih mengejar kualitas daripada kuantitas, buat mereka pendidikan anak menjadi prioritas utama

Meanwhile, kecendrungan masyarakat golongan menengah-bawah untuk punya anak 3-7 bisa dipicu dari beberapa faktor,

  1. Si wanita adalah kembang desa, rasanya aneh kalo udah umur 18 tahun tapi masih blom dinikahin
  2. Si wanita adalah ibu rumah tangga / pedagang sayur dipasar, jadi bentuk tubuh setelah melahirkan bukan masalah
  3. Si pria tidak mengenal seks dari muda, boro-boro kondom, karna memang tidak ada pendidikan seks dari orang tuanya, jadi begitu dewasa, berasa dapat ‘maenan’ baru
  4. Si pria sadar betul kemampuan reproduksinya, dan dia pengen dicap sebagai pria sejati di kampungnya dengan menabur ‘benih’ sebanyak-banyaknya
  5. Si wanita dan pria menjadikan menikah sebagai solusi pasti ketika terjadi ‘kecelakaan’, umm, mungkin dukun beranak atau kabur meninggalkan si wanita juga bisa
  6. Si pria pulang ‘kantor’ masih penuh semangat karna toh ngantornya di warung kopi depan gang, jadi perlu ‘kerja keras’ dikit sebelum tidur
  7. Si pria dan wanita secara sadar dan aktif meyakini bahwa banyak anak banyak rejeki. Asal bisa bantuin bapak nyangkul di ladang ato ngojek di depan gang juga ga masalah, buat mereka tenaga si anak jadi prioritas

From here, we can see a disaster coming. What?? Still can’t see it??

Ok, jika jumlah wanita dan pria itu seimbang (biar masing-masing orang ada pasangannya dan tidak ada kasus gay dan lesbi di sini), dalam x dekade, jumlah penduduk menengah-atas bakal bertambah sekitar 50-150 %, sedangkan untuk jumlah penduduk menengah-bawah bakal bertambah sekitar 150-350%. Dan terus bertambah dengan rasio yg berbeda.

Ok, masih belum lihat juga masalahnya dimana?? Tadinya, komposisi perbandingan menengah-atas vs menengah-bawah masih 50%:50%, sekarang bisa berubah jadi 40%:60%, trus 30%:70%, dan kemudian 20%:70% and so on, and until one moment, middle-up is an endangered species, because soon, they will be extinguished.

Gue ga bilang kehidupan anak-anak gue nanti bakal lebih baik atau minimal sama ama gue, tapi gue yakin, gue bersama istri gue kelak, bisa memberikan peluang yg lebih besar untuk anak-anak gue mencapai titik itu.

Yaaaah, sekali lg, ini cuma tulisan ngalor ngidul ga tentu arah, memang solusi terbaik adalah masing-masing pihak sadar betul akan tanggung jawab yg diberikan. But desparate time calls desperate measures. And I think, I’m getting desperate…

The Necessary Evil

Siapa yg butuh setan???? Gue sih engga, ga tau deh kalo lo pada butuh. Hahaha, entah knapa judul itu jadi sering terngiang-ngiang di kepala gue, terutama sebelum tidur, The Necessary Evil. Eh, pas gue googling, ternyata ada film yg judulnya Necessary Evil (2008). Tenang, gue ga niat ngebahas film itu, secara gue bukan reviewer movie yg baik.

Back to the topic, kalo dulu di sekolahan, syukur-syukur sih lo nemu orang yg berperan sebagai si-setan-yg-dibutuhkan, biar lebih gampang gitu gue ceritainnya. Mungkin kakak kelas di sekolahan yg galak abis, ato guru yg disiplin abis, pokoknya yg pada abis-abis dah. Kalo lo ada yg pernah ngikut malam perpeloncoan, biasanya si-setan ini yg paling rese. Dia dapat giliran jadi yg jahat, brengsek, arogan, bangsat luar biasa dan semua sifat jahat yg ada di dunia ini rasanya menyatu dalam tiap sel di tubuhnya.

Tapi karna konteksnya necessary, keberadaan dia emang dibutuhkan buat tujuan yg lebih besar lg. Entah itu mengajarkan kerasnya dunia, pahitnya kehidupan, solidnya tembok, sakitnya bogem, tajamnya pisau, panasnya api dan masih banyak lagi lainnya..mungkin sedikit lebay!!

Kalo dulu ada yg bilang gini ama gue, “Daripada lo ancur begitu gue lepas ke dunia luar, mending gue ancurin dulu lo sekarang. Lo kira hidup itu gampang?? Coba lo cari sendiri duit 50 perak sekarang!!”..gitu lah, waktu itu uang jajan gue masih 150 rupiah.

Dan biasanya, orang yg jadi si-setan-yg-dibutuhkan ini, justru orang yg sangat sayang/peduli ama lo. Dia lebih memilih jadi tokoh yg dibenci asal nanti lo bisa berhasil sesuai dengan tujuan yg udah dia set. Maka jadilah dia si-setan-yg-dibutuhkan…

Trus knapa gue ceritain hal-hal beginian??? Hehehehe, jujur aja, gue pengen tuh jadi si-setan-yg-dibutuhkan sementara..Lumayan bisa jadi orang brengsek sesaat. Hahaha, engga dink..Cuma pengen bilang, jangan terlalu cepat meng-judge orang yg brengsek, jahat, arogan, sinis ato yg lainnya, karna ya itu, necessary gitu loh

Blogging and One Night Stand

Damn, it’s Sunday, and still 6 o’clock, what the hell am I doing right now in front of computer?? Don’t you see that sexy lady on the bed?? Calling you desperately to get in bed!! And yet, you’re sitting on the chair beside the bed!! Humh, I’m getting better with “bed” word..

Hoaaaaaaammmmmhhh…yawning..

Well, what should I talk about now?? Aaahh, couple days ago, my friend saw me thinking very hard, erm….more likely frustrated while blogging. He said, “If you don’t have any idea thing to write, then don’t write!!“, or something like that. So what do you think about that??

According to my friend, and I believe for most of you guys……….and ladies (I start to forget that I still have female friends out there), blogging has a strong relationship with creativity or experience. So when you got that “ting-tong” moment, then you start writing. And usually you write it great, at least good. Like another of my friend said, “Life experiences are unlimited inspiration to write a blog!!“.

So, since you are reading “rikipribadi.com” not “rikipribadi-friends.com”, I’m entitled to tell you my point of view, taraaahh:

Blogging is supposed to be fun, free, challenging, come-and-go, exciting, no hurt-feeling, urm…..urm…..urm….. Ok….this is the best analogy that I’ve found, blogging is supposed to be like a one-night-stand, not marriage.

That tells a lot!!

Today happens to be your fun day. On that day you are free to do anything you want to do. And your mind says, “Let’s do something challenging“. Then you go to a bar, scanning for every sexy ladies there, watching them come-and-go. And when you found your target, tell her your best pick-up lines combine with alcohol, then…”ting-tong” there you go, your exciting night begins. In short, you went to, either yours or her place, and around 5-6-or-7 you/she sneak out with no hurt-feeling.

Meanwhile, by marriage, you are not free. You have obligations. You act responsible. Even if you don’t want to. Because it’s not about you-and-your-penis anymore. Bottom line is, you can’t survive if you do something only when you want it. You can’t say to your family, “I don’t think I want to give you my salary this month, I want to buy PS3!!” or can you?? Humm…Here is the reason why you can’t do it:

A, because is not responsible, and since you are a family guy, you need to act responsible. And B, seriously, you need your whole salary to buy PS3?? Damn!!

Now enough with that, let’s go back to earth, to our original topic.

I don’t want to write only when I have something in mind or in the mood. I want to be able to do it whenever I want to do it. I don’t want to write as a reaction, I want to write because I simply can. I can say that this is one of my ways to take a full control of my self. So as frustrating as it looks, I hope I’m one step closer.

Heh, time to grab some breakfast!!

Di kampung orang aja!!

Ermm…sekitar 2 minggu lalu, pas gue lg di taksi sedang menuju pulang, si sopir ngajakin ngobrol. Secara emang udah malam, mungkin dia khawatir ngantuk ato gimana, percakapannya pun ngelantur kemana-mana. Kebetulan karna waktu itu gue duduk di belakang, jadi rada susah buat ngeliatin papan nama supirnya (aslinya sih ga peduli, capek bgt soalnya!!), kita sebut aja Pak Wahab.

“Habis dari mana, Pak??”, tanya dia mengawali percakapan malam itu.

Long story short, ternyata Pak Wahab udah narik sejak 1985. Artinya, waktu gue masih netek, dia udah ngebut. Dedikasinya nyupir udah ga perlu ditanyakan lg. Ga terhitung udah berapa jam yg dia habisin dibalik kemudi. Bawaannya pun macam-macam. Mulai dari becak ampe pesawat pernah disupirin ama dia. You name it!! Hehehe….

Mendekati Semanggi, ga tau gimana, topik obrolan berubah jadi petrus, sang penembak misterius. Berceritalah dia betama amannya Jakarta dulu. Preman-preman pada jiper, secara kalo sore ini mereka ngrampok, bisa jadi besok pagi badannya ditemuin udah kaku di selokan. Yang namanya tato ga bisa dipamerin sembarangan, karna bisa di-identik-kan dengan premanisme. The point is, Jakarta aman abiessss!!!

Sampai di sini, gue pikir, bisa jadi petrus itulah yg kita butuhkan saat ini. Secara tingkat kriminalitas Indonesia, terutama Jakarta, yg makin menjadi-jadi, mungkin udah saatnya api dilawan api. Yaaaa…pertanyaan selanjutnya, “Gimana cara nentuin penjahat yg mana? yg bukan yg mana?”. Rasanya terlalu riskan untuk sedikit berperan menjadi Tuhan. But honestly, I think it was necessary…

Sejauh gue setuju ama pendapatnya dia, tiba-tiba dia nambahin:

“Iya, warga kampung Saya ada yg mati ama petrus. Padahal bagus loh dia. Dia kalo begituan ga pernah di kampung sendiri. Pasti di kampung orang. Bagus lah dia!!”

Yeah rite!!! Tolong antarin aja gue dengan aman sampe tujuan Pak. Secara gue bukan warga kampung situ gitu loh!!

Tapi setelah beberapa lama, gue jadi mikir ada benernya juga loh. Banyak dari kita berprinsip,”Jangan buang kotoran di tempat sendiri”. Kalo mau nyolong, jangan nyolong di rumah sendiri, mending di rumah orang aja. Kalo mau berantem jangan ama teman sekelas, mending tawuran ama sekolahan tetangga aja. Kalo mau perang jangan di dalam negri, mending ama Malaysia aja. See my point??

Ok, sampai disini gue sendiri jadi bingung. Tujuan gue nulis ini apaan sih!!??

Oleh karna itu, pilih Saya!!!

Hiruk pikuk komposisi Kabinet Indonesia Bersatu emang lg jadi hot topic sekarang. Blow up dari media yg ga ada abis-abisnya, bener-bener menambah maraknya pagelaran politik ini. Gue sendiri sih, enggan mengomentari. Secara politic is not my region. Agak cuek memang kesannya, tapi prinsip gue, kalo tanggapan lo terhadap suatu masalah ga memberi solusi atau minimal membuat keadaan lebih baik, mending tutup mulut aja. Orang bego juga bisa kalo cuma kritik doank. Tapi kalo ngomentarin dikit orang-orang yg mengomentari, bolehlah ya.. Komentar kaya gini nih:

“Yang pertama Hatta Rajasa tidak sesuai dengan posisi yang ditempati. Kedua Agung Laksono, tidak memiliki jiwa manajerial. Sudi Silalahi sudah terlalu tua. Patrialis akbar menurut saya tidak tepat karena masih banyak ahli hukum dan HAM lainnya. Darwin Zahedi, siapa dia? Belum jelas track recordnya”

Ato yg ini:

“Muhaimin Iskandar, ini posisi vital dia kan Menakertrans. Ini kan harus dipegang oleh orang yang bisa bahasa Inggris, dan Muhaimin tidak bisa bahasa Inggris”

Yg ini juga:

“Djoko Kirmanto, sering sakit-sakitan seharusnya ia sudah pensiun. Tifatul Sembiring, dia hanya lulusan S1, dia nggak ahli. Zulkifli Hasan, menurut saya menteri kehutanan seharusnya bukan dari parpol. Helmi Faisal, salah dia di kementrian PPDT. Kementerian itu harus orang yang kuat. Di Indonesia timur menunggu gebrakan dari kementrian ini”

Sumber berita dari sini

Berdasarkan prinsip gue di atas, jelas-jelas ini cuma memperkeruh suasana. Boro-boro memberikan solusi, justru nambahin masalah. Belum lagi pernyataannya yg merendahkan orang lain secara sepihak. Aih, terkesan gimanaaa gitu (baca: sirik dan narsis). Tersirat bahwa dia sudah pasti lebih baik daripada orang yg dia kritik. Mungkin yg kurang cuman, “Masih mending gue lah dibanding mereka!!”. Btw…ngincer posisi mana bos??

Yaaaa….intinya semoga Indonesia bisa lebih baik. Selamat bertugas kepada para pejabat terpilih. Ingat toh, Anda-Anda ini diberi amanat, pertanggung-jawabannya dunia akhirat.

Better and/or Happier

When life gets better, does it feels happier?? Or when it gets happier, does it feels better??

Just another random thoughts before sleep…

Interviewer: Bagaimana Anda memvisualisasikan diri Anda dalam 5 tahun kedepan?

Gw yakin pertanyaan itu pasti sering ditanyakan ama interviewer tempat lo ngelamar kerja. Biasanya sih ditanya di ujung-ujungnya proses interview. Entah apa maksudnya pertanyaan itu. Apakah pertanyaan itu tergolong pertanyaan vital yg menentukan status kita diterima ato engga? Atau cuma sebatas pengen tau aja? Atau entahlah…

Entah ya, tapi gw ngerasa pertanyaan itu mirip dengan pertanyaan, “Cita-cita kamu apa?”. Kalo dulu waktu masih kecil ditanya, “Nanti kalo udah gede mau jadi apa?”, pas giliran udah gede ditanya pertanyaan kaya’ di atas. Dan kalo kita bicara fakta, berapa persen sih orang yg jadinya sesuai dengan yg mereka cita-citakan?? Jadi darisitu, gw bisa ambil kesimpulan kalo pertanyaan itu ga relevan. Sekedar pertanyaan iseng belaka. Kalo dijawab sukur, kalo engga ya weis…itu menurut gw..

Tapi betenya, menurut si interviewer, kalo lo ga bisa memvisualisasikan diri lo di 5 tahun mendatang seperti apa, artinya lo ga punya visi misi, ga punya tujuan. Dan orang tanpa tujuan….hem…kesannya gimana gitu. Kalo lo ga ada tujuan, berarti ga ada proses kemajuan. Ga fair kan??

Dan tambah sialnya lg, tiap kali gw ditanya ama yg begituan, gw selalu bilang, “Wah…saya ga tau”, dalam hati, “Do you think I’m a psychic or something??”.

Gini ya mas interviewer…Kalo lo ngecap gw “Wah, berarti Anda ga punya career objective donk?” Berarti perusahaan ini, khususnya mas sendiri, ga cukup baik buat gw. Lebih baik mas cari orang lain aja…

Buat gw, bagaimana gw memvisualisasikan diri gw 5 tahun ke depan = tak hingga. Terutama faktor umur gw dan pengalaman gw yg masih minim, gw ga mau mematok gw seperti apa dalam 5 tahun kedepan, karna kemungkinannya ga terbatas. Bisa aja gw jadi teller di bank, ato pegawai sekuriti, ato instruktur yoga, ato manager IT, ato HR, ato business analyst, ato juragan kebab….see??

Mungkin ntar kalo udah mendekati umur 30 baru ketemu. Tapi kan ya…ga semua HR peduli itu…

Jadi…5 Gery Chocolatos sama dengan??

Gery Chocolatos

Gery Chocolatos

Awalnya sih gw ga begitu peduli ama yg beginian, tapi kemaren pas hari Sabtu kejadian aja gitu. Jadi gini, gw emang suka bgt ama Gery Chocolatos. Ya, coklat stik batangan yg mirip dengan sesepuhnya dulu, Astor, emang sering gw konsumsi belakangan ini. Secara emang enak dan…… enak, apalagi kalo dingin, ya cocoklah. Buat lo yg belom pernah makan, cobain gih…Gopek ini doank!!

Hari Sabtu kemarin, sepulang dari servis motor, gw langsung ke Giant Kelapa Dua, secara gw ga megang kunci rumah dan kakak gw emang lg belanja di Giant. Ya weis, sekalian beli Gery donk!! Biasanya, gw beli Gery itu 3-4 kotak, isi 1 kotak = 5 Gery, dengan harga perkotaknya gw ga tau, secara gw ambil aja gitu ga itung”. Belajar dari pengalaman, biasanya kalo gw beli eceran di warung-warung, harga 1 Gery = gopek alias Rp. 500. Asumsinya, kalo di jual eceran dengan harga segitu, udah pasti si penjual ambil untung donk. Mungkin aja harga aslinya sekitaran Rp. 400 – 450. Berarti, dengan kemampuan berhitung gw yg sangat sangat mumpuni, harga 1 kotaknya sekitar Rp. 2.000 – 2.250.

Entah knapa kemarin gw cek harga persatuannya di Giant, ternyata Rp. 590. Ok aja sih ama gw, ga masalah. Toh masing-masing warung ataupun supermarket berhak mendefinisikan harga mereka masing-masing. Tapi anehnya, harga 1 kotak yg isinya 5 Gery, dijual dengan harga Rp. 3.600an, anehkan?? Seharusnya, kalopun mereka mau pukul rata, okelah bisa dijual dengan harga Rp. 3.000, tapi ini Rp. 3.600, kemana 1 lg Gery-nya?

Sebenarnya mungkin itu trik dagangnya mereka juga kali ya. Mungkin justru dari situ mereka bisa ngambil untung. Daerah abu-abu antara benar dan salah. Intinya, sebagai konsumen, kita-lah yg musti pandai-pandai. Kalo mo belanja di liat dulu baik-baik, cek dulu harga ecerannya, karna kalo beli sekotak belom tentu lebih murah.