Ketika Jupe & Maria Eva maju jadi balon bupati…

I never like politic, never…ever. My mom taught me that politic is dirty. And as far as I’ve seen it, it is damn dirty. F*ck..it is dirty!!!

Gue capek baca berita Century, Sri Mulyani, Gayus, Susno, Miranda, Nunun, Syahril Djohan dll. But still, itu masih lebih baik daripada nonton sinetron Indonesia produksi Ram Punbabi Punjabi. Rakyatpun terbius dengan drama berita ini, asik menebak-nebak alur cerita, kasak-kusuk bikin hipotesa masing-masing, ditambah pula dengan media masa yg giat ngebentuk opini publik. And suddenly, WE are the show.

Belakangan, kalo gue liat koran-koran disini, ada kata “Indonesia” dijudulnya. Gue denger radio, ada kata “Indonesia” diawal pengumumannya. Yeah, our nation, Indonesia. But sadly to say, not in a good way.

Sampai akhirnya gue baca berita tentang Jupe & Maria Eva. Dahi gue mengerut, serasa ga percaya. Keyword “Jupe” langsung gue ketik di mesin pencari memory otak gue. Dan top resultnya, “Koleksi foto sexy Jupe”. Giliran keyword “Maria Eva”, top resultnya, “Video Maria Eva ngesex + Yahya Zaini”. “Tuhkan bener, mereka yg itu!!”, respon gue.

Kalo gue boleh nyalahin, gue bakal nyalahin PAN. Partai yg gue kagumi karna ada salah seorang tokoh Muhammadiyah dibelakangnya, Amien Rais. Gue sempat kecewa waktu dia gagal terpilih jadi presiden waktu jaman gue kuliah. Padahal gue suka banget liat orang politik-akademik maju memimpin bangsa ini, poster kampanyenya juga seru, “The chosen one”. Tapi lagi-lagi uang berbicara waktu masa kampanye.

Selepas kepemimpinan dia, PAN berubah jadi Partai Artis Nasional. Strateginya pun brilian, “Ngapain capek-capek memperkenalkan tokoh politik ke masyarakat dari nol, kalo masyarakat udah pada kenal artis-artis di sinetron-sinetronnya Ram Punbabi Punjabi? Mereka aja yg kita jadiin tokoh politik. Tinggal tambahin slogan peduli rakyat kecil, memajukan pendidikan, kalo perlu world-peace sekalian!”. Dan latah artis jadi politikus-pun mewabah..

I can’t say that all of them were not good enough. In fact, they might be better than me in some other ways. But to lead our country?? Our people?? I say, we really need to think about it again.

Dan ketika gejolak mempertanyakan kemampuan artis itu muncul, pihak terpojok langsung membalikkan keadaaan dengan pertanyaan pamungkas, “Bukankah tiap warga negara Indonesia itu punya hak untuk berpolitik??”. Pinter banget nyari celahnya. Dan sayangnya, di negara kita Indonesia ini, yg sangat menjunjung demokrasi, well, lebih tepatnya over demokrasi ala lebay-nya, dimana demokrasi dianggap kebebasan, tumbuh suburlah benih itu.

Gue ketawa waktu baca pernyataan Maria Eva ketika ditanya ttg masalah pengetatan syarat calon dalam pilkada:

“Omongan itu tidak ada dasarnya, semua warga negara mempunyai hak yang sama baik itu pelacur sekalipun untuk apapun.”

Atau tentang Jupe yg dengan naifnya berharap bahwa citranya di mata publik langsung berubah, *finger-snapped* instantly hanya dengan ngomong:

“Berubah dalam pakaian, lebih tertutup, harus bisa menempatkan diri, harus lebih hati-hati dalam bicara. Sekarang harus menjadi cermin dan contoh.”

Eleuh-eleuh…..Siapa yg ngajarin ngomong Neng??

Okelah, gini aja. Gue ubah cara gue menyampaikan pendapat gue ttg kasus di atas. Kira-kira pertanyaan-pertanyaan seperti ini yg bakal diajuin dengan penganut paham over demokrasi ala lebay-nya Indonesia.

Bukankah tiap warga negara Indonesia itu punya hak politik??

Oh tentu punya. Betul sekali pernyataan Maria Eva bahwa pelacurpun juga punya hak. Tapi jangan lupa, hak seperti apa yg kita bicarakan disini. Hak untuk ikut pemilu?? Pasti. Hak untuk mengajukan pendapat?? Sudah tentu. Tapi untuk memimpin bangsa ini?? Engga semua orang punya hak untuk itu. Bahkan, kalo menurut gue, itu adalah privilege, you need to earn it. Not just by some stupid fools, knocking at your door saying, “Hey look, we have a spot for you to be our leader. How about that??”. Lihat betapa ksatrianya politikus-politikus luar negri yg langsung berhenti ketika terlibat affair (even though they are stupid enough to be involved in the first place). Kalo disini, justru kebalikannya, udah tidur dengan laki orang, sekarang nyalon!!

Jadi menurut lo artis ga cocok di politik??

A true artist, will live in art-world, not politic-world. Ngapain lo jadi artis kalo mau ngurusin politik. Apa lo ga nyadar, lo itu cuma menang di faktor nampang di tivi doank!! Contoh gampangnya gini lah, perusahaan lo buka lowongan pekerjaan, posisinya accountant. Lo lebih milih lulusan STAN apa IKJ?? Mereka sama-sama fresh graduates. Pengalaman di lapangan juga nihil. Tapi lowongan itu lebih cocok untuk lulusan STAN. Ga ada jaminan nanti dimasa depan, si STAN akan lebih baik performance-nya dibanding si IKJ. Tapi karna si STAN udah dibekali dengan ilmu yg tepat, rasanya pilihan yg tepat untuk memilih si STAN. Pertanyaannya, bekal artis apa selain jago sandiwara??

Jadi artis ga boleh masuk politik?

Tentu boleh. Masuklah ke partai. Belajarlah disana. Aktiflah di dalamnya. Buktikan kalau emang lo mampu. Mulailah dengan langkah kecil, bertahap menuju yg besar. And when the time is right, and you are in the right moment, then it will be yours. Bukan langsung melangkah besar dan baru belajar setelahnya. Itu dungu namanya!! Jangan lupa Bung, ada hajat hidup orang banyak yg terlibat di dalamnya. Apa lo siap bertanggung jawab terhadap orang-orang yg lo pimpin?? Apa lo mampu mikul tanggung jawab sebesar itu?? Apa lo punya pengalaman sebelumnya?? Kalo jawabannya engga, tolak-lah. Jangan jadi orang yg tanpa lo sadari justru menzolimi orang lain.

Trus lo kira pemimpin-pemimpin kita sekarang ini lebih baik dibanding kalangan artis??

Gue ga bilang bahwa kita bakal lebih hancur kalo dipimpin ama politikus artis. Gue setuju bgt bahwa sekaranglah saatnya perubahan. Tapi sekali lagi gue ingatkan, ini bukan permainan komputer yg ada menu “play-again”-nya. Kita ga bisa coba-coba disini. Ada nasib jutaan orang yg bergantung didalamnya. Untuk itulah kita butuh pemimpin yg benar-benar bisa memimpin. Dari mana kita bisa tau bahwa dia bisa memimpin?? Lihat track-recordnya. Ibarat lowongan tadi, seandainya si IKJ punya track-record yg bagus di bidang accounting sebelumnya, mungkin akan lain ceritanya. Sekarang kita tinggal liat, mana yg punya track-record lebih baik.

Yap itu aja dulu. Semoga bangsa kita bisa lebih mencermati kondisi sekarang ini. Dan ditengah hiruk-pikuknya bangsa ini, gue bener-bener berharap kita akan lebih baik. It always gets worse before it gets better..

Buat Jupe & Maria Eva, walopun gue ga setuju lo nyalon, bukan berarti koleksi lo gue apus.

Buat orang-orang partai yg cukup tolol untuk tidak mempersiapkan kadernya untuk memimpin, udah saatnya lo mundur dan beri kesempatan buat yg lebih mampu.

Buat orang-orang yg setuju Jupe & Maria Eva nyalon, selamat man. Sedikit banyak lo ikut bertanggung jawab di dalamnya, kalo seandainya banyak orang menderita setelahnya. Tapi kalau seandainya ternyata lebih baik, mungkin ada baiknya lo buka yayasan “From Artist To Leader”. Sapa tau lo bisa nemu calon-calon lainnya.

9 Responses to 'Ketika Jupe & Maria Eva maju jadi balon bupati…'

  1. arman says:

    ah ya begitulah politik indonesia. emang jadi ajang dagelan/lawakan aja… sedih ya ngeliatnya…

  2. Berdasarkan pengalaman, kita ga bisa menilai orang dari kulitnya. Lebih baik mantan preman daripada mantan ustadz. Lebih baik mantan pelacur daripada mantan ustadzah.

  3. Riki Pribadi says:

    Setuju bgt bro..Tapi jangan di lupain ustadzah yg masih ada. Kalo diurutin, ada ustadzah, mantan pelacur, pelacur, mantan uztadzah.

    Kenapa mengutamakan pilihan mulai dari nomor 2 kalo masih ada pilihan nomor 1?? Utamakanlah golongan dari orang yg baik-baik..apa ga ada orang yg dari dulunya di jalan yg benar dan sekarang tetap di jalan yg benar??

    Tapi kalau orang seperti itu udah ga ada, dan rasanya kemungkinan sperti itu kecil sekali, ya kita turunkan lagi kriterianya, cari orang yg dulunya di jalan yg tidak benar tapi sekarang sudah kembali ke jalan yg benar

    Kalau ga ada juga, hancurlah bangsa itu karna dipimpim ama orang-orang ga benar…

    Gue juga setuju ga baik menilai buku dari covernya, karna kita juga bisa menilai dari nama pengarang, penerbit, judul, dan sinopsis bahkan terkadang harganya. Rasanya kita bisa dapatin gambaran kasar tentang sperti apa buku itu sebenarnya sebelum memutuskan tertarik atau tidak untuk membaca lebih lanjut…

  4. Valent says:

    wkwkwkkw. mas RP ngamuk. tapi gw lebi milih nonton spongebob daripada nonton politik

  5. elmoudy says:

    gw sepakat aja bro…
    kalau kemudian banyak orang mencibir n menjegalnya..
    ya silakan saja.
    tapi apakah mereka yang bersuara lantang itu.. sudah lebih baik akhlak n moralnya..
    apakah mereka itu tahu mana perbuatan baik-benar.. mana perbuatan jahat-salah.
    apakah mereka yang bersuara lantang itu… adalah orang suci ?

    lebih baik Jupe n Maria Eva.. daripada para pejabat yg korupsi itu.
    lebih baik Jupe n Maria Eva.. dari pada pejabat itu yang suka merusak hukum Indonesia.

  6. Riki Pribadi says:

    humm, sperti yg gue bilang juga, blm tentu gue lebih baik dari mereka. tapi apakah kita musti lebih baik dari yg bersangkutan dulu, baru bisa membedakan mana yang baik mana yg engga? baru boleh bersuara itu benar itu salah? gue rasa tiap orang punya hati nurani untuk membedakan mana yg benar mana yg salah..

    Kalo musti jadi orang suci baru bisa sperti itu, ga bakal ada orang yg bisa karna terbukti ga ada manusia suci di dunia ini. bahkan guru agama, ustadzah, pastur, biksu, biarawan pun engga…karna begitulah kodrat manusia, ga ada yg suci.

    Bahkan Tuhan pun mengatakan, bahwa Dia mencintai orang yg bersuci (berusaha untuk menjadi suci, bukan orang suci)

    Gue juga setuju, lebih baik Jupe & Maria Eva daripada pejabat yg korupsi, lebih baik Jupe & Maria Eva daripada pejabat yg suka merusak hukum Indonesia…

    Tapi gue lebih setuju lagi,
    Lebih baik orang yg amanah daripada Jupe & Maria Eva
    Lebih baik orang yg menjaga akhlak & moralnya daripada Jupe & Maria Eva

    Sekarang masalahnya, orang sperti itu bakal dicalonkan atau tidak? Lagi-lagi kita terperangkap lingkaran setan politik..

  7. Omiyan says:

    Inilah bila sesuatu hal tidak didasarkan apda hukum agama, jelas sekali agama telah memberika tuntunan untuk kita dalam memilih pemimpin dan kriterianya dan jika itu diabaikan …. contoh yang sekarang terjadi maka akan terjadi lagi ….

    tak usah saya sebutin tapi kita sudah tahu dimana-mana pemimpin yang tadinya ktia harapkan jsutru menjadi penghianat buat para pemilihnya …

    dan semoga ME dan JUPE tidak terpilh dan buat partai pengusungnya MARI KITA TINGGALKAN PARTAI SEPERTI ITU

  8. orange float says:

    saya juga ngak setuju mereka menjadi salah satu pemimpin di negeri ini. ngurus rumah tangga sendiri aja belum becus gmn mau ngurusin orang banyak.

  9. ar says:

    untuk elmoudy,
    “lebih baik Jupe n Maria Eva.. daripada para pejabat yg korupsi itu.
    lebih baik Jupe n Maria Eva.. dari pada pejabat itu yang suka merusak hukum Indonesia.
    r u sure???
    kata maria eva di acara jhon pantau, “wajar kok, jangan munafik, saya yakin 99.9% pejabat negara sekarang ga bersih”
    come on, gimana caranya orang yg mewajarkan korupsi bisa ga korupsi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*